Showing posts with label galleries. Show all posts
Showing posts with label galleries. Show all posts

Friday, January 1, 2016

When I have nothing to do in Sunday

Sebagai seorang newbie di Semarang, belum punya temen dan nggak ada kendaraan itu menyedihkan. Apalagi yang aku tahu di Semarang itu cuma sebatas Simpang Lima, Stasiun Tawang, dan kosan. It was cloudy Sunday, dan karena benar-benar bosan tiduran di kamar dari kemarin hari, aku kepengen membuat gebrakan di hari itu *halah*. Intinya aku harus keluar dari kamar, walaupun nggak tahu mau kemana. Nah pas buka-buka Instagram, secara nggak sengaja nemu salah satu art gallery di Semarang. God bless me, ternyata lagi ada pameran di Semarang Gallery, dan nggak pakai pikir lama-lama, langsung deh siap-siap buat kesana. Berbekal alamat yang tercantum di Instagram, 5 menit kemudian aku udah duduk anteng di dalam angkot yang sebenernya aku juga nggak tahu itu angkot menuju kemana *lhah*. Soalnya angkot yang lewat depan kosan ya cuma satu itu sih. Mikirnya simpel, itu angkot kemanapun dia pergi pasti baliknya ke terminal juga. Kalau nyasar ya tinggal oper ke angkot lain sampai bener. Bener-bener nggak patut dicontoh yha. Karena deg-degan juga, akhirnya nanya ke bapak supir, eh dianya juga nggak tahu dimana letaknya Gallery Semarang itu.


Di dalem angkot aku ngelihatin google maps terus, sambil berdoa rute angkot ini nggak melenceng-melenceng banget dari lokasi galerinya. Setelah sekitar 40an menit nggak nyampe-nyampe, perut ini mulai mules. Rute di google maps bener sih tapi kok kayak jauh banget ya. Pas sampai persimpangan pasar entah pasar apa itu namanya, si bapak supir angkot bilang kalau aku kudu oper dan nanti coba nanya angkot lain. Yawislah percaya, aku turun, bayar, dan ngelihatin sekeliling. Banyak angkot ngetem di sana, cap cip cup kembang kuncup aku malah milih bapak tukang becak yang setengah ngantuk di pojokan warung kopi. Pas ditanya lokasi Semarang Gallery si bapak juga bingung ternyata, duh. Mana mendung dari tadi pagi mulai gak bersahabat. Terus dia manggil temennya yang lain, si temen bapak tukang becak ini antusias bilang dia tahu dimana lokasinya. Walaupun rada ragu, akhirnya aku naik juga ke becaknya. Di tengah jalan, dia nanya lagi apa nama tempat yang dari tadi aku cari-cari. Disitulah perut mules bergejolak kembali, jangan-jangan si bapak ini juga aslinya nggak tahu lokasinya. Dia berhenti di depan taman Srigunting, ngasih tahu kalau udah nyampe. Aku celingak-celinguk, “lha mana galerinya?”. Karena merasa diturunin di tempat yang tidak semestinya, aku nggak mau turun dari becak terus bilang ke bapak kalau kayaknya belum sampai. Dia juga bingung, terus nanya ke mamas-mamas penjual teh botol. Untung si mas tahu lokasinya, nggak jauh ternyata. Eeee..tapi si bapak tukang becak ternyata kebablasan, aku malah dibawa ke gang-gang sepi, terus dia berasumsi kalau galerinya lagi tutup. Karena nggak percaya, aku minta bapak itu buat nanya ibu-ibu berdaster di ujung gang, dikasih tahu deh lokasinya. Setelah muter-muter dikit, akhirnya ketemu itu gallery!! Pas turun dari becak tiba-tiba langsung hujan, duh rasanya mau nangis terus meluk bapak satpam yang jaga depan pintu. Yea I know it’s overacted. Kelar bayar becak, dengan bangganya aku langsung masuk gallery, beli tiket, dicap stempel, ambil brosur dan mulai keliling lihat-lihat.


Hari itu yang dipamerkan adalah lukisan karya mas Dadang Rukmana yang berjudul ‘Tetes’. Uniknya lukisan ini dibuat dengan metode drip painting, yaitu metode melukis dengan cat air atau cairan cat yang diteteskan, dipercikkan, atau ditaburkan di atas kanvas dari kuas atau peralatan lain. Total ada 12 lukisan, dan semua itu dibuat dari bercak cat air yang diteteskan, bukan disapukan. Bayangin gimana lama dan susahnya bikin itu aja udah nyut-nyutan sendiri. But, it was awesome!! Nggak sia-sia buat datang ke solo exhibition ini. Di lantai dua juga ada beberapa lukisan dari artis lain sedang yang dipamerkan. Ternyata eh ternyata, yang datang ke pameran ini lumayan banyak. Ada yang tujuannya memang beneran pengen lihat pameran, ada juga yang datang dengan tujuan lain, yaitu foto-foto ootd dan foto ala-ala couple. Memang sih Semarang Gallery ini sangat instagramable buat foto begituan. Jadi, perlu sabaran dikit pas ada degem atau pasangan muda-mudi yang minta aku buat ngebantuin ambil foto mereka *sigh*. Nggak terasa udah 3 jam muterin galeri. Sebelum pulang aku sempetin ngobrol bentar sama bapak security yang jaga dan mas-mas ticketing, beli handbooknya buat kenangan terus pamit. Hujan juga udah berhenti. Karena masih belum sore-sore banget, aku anjut buat jalan-jalan bentar ke taman Srigunting, penasaran disana kenapa banyak banget manusia berkumpul. Well, it might be continued in the next post ya, tangan udah pegel ceritanya, hehe…


























Thursday, June 12, 2014

The 1st Jogja Miniprint Biennale (JMB) 2014

The 1st Jogja Miniprint Biennale (JMB) 2014 | 6-13 JUN 2014 | Museum Bank Indonesia Yogyakarta

Setelah ke pameran ARTJOG - di postingan sebelumnya - akhirnya aku dan Eka mampir sebentar buat leha-leha di dekat kantor pos besar Yogyakarta, ceritanya mau numpang beli minuman di minimart sekitar kantor pos. Yak salahkan cuaca Jogja yang panas banget, nyari minum aja sampai kantor pos!! Eh tapi ternyata di samping kantor pos besar, yaitu Museum Bank Indonesia sedang ada acara The 1st Jogja Miniprint Biennale (JMB) 2014. Kebetulan banget, mampir sekalian deh.
Baru kali ini masuk Museum Bank Indonesia, malah sebelumnya nggak tahu kalau tempat itu dijadikan museum. Ruangan yang dipakai buat JMB nggak terlalu besar, tapi cukup lapang karena karya pameran dipajang di partisi-partisi sepanjang tepi dinding. Jadi, bagian tengah ruangan bisa buat jungkir balik ataupun salto juga nggak masalah kalau nggak punya malu. Pengunjung yang datang juga cuma sedikit, mungkin karena masih hari dan jam kerja orang kantor. Good for us, bisa menikmati karya pameran dengan santai.

Menurut brosur, event JMB ini menampilkan 140 karya dari 72 seniman yang berasal dari 23 negara. Karya yang ditampilkan berupa gambar cetak berukuran mini yang dibuat dengan teknik yang beragam. Jujur baru pertama kali ini aku melihat pameran seni cetak grafis semacam ini, jadi benar-benar awam dan bingung kalau ditanyai tanggapan tentang acara biennale itu sendiri. Apakah konsep dan sajiannya memang ditampilkan secara minimalis seperti itu atau tidak. Tapi sebagai pengunjung yang bukan dari kalangan seniman, sebenarnya ini cukup menarik lho. Dari karya yang imut-imut ukurannya itu, kalau mau diamati baik-baik ternyata punya makna dan pesan yang luas. Tergantung juga bagaimana tiap orang merepresentasikan pesan tersebut. Selain itu, jangan lupa kalau teknik yang digunakan dalam pembuatannya juga nggak asal-asalan. Seperti yang dikatakan kritikus seni rupa Suwarno Wisetrotomo, teknik cetak 'menyembunyikan' sejumlah kemungkinan potensi artistik. Mulai dari teknik konvensional; cetak tinggi; cetak dalam; dan cetak saring dengan segenap variannya dapat dikembangkan menjadi berbagai macam teknik, dipadukan (mix), bahkan sebutan. Nah nggak kalah artistik kan dari karya seni lainnya?!


Harapannya sih acara semacam ini bisa diadakan secara rutin, dengan skala yang lebih luas dan karya yang lebih banyak. Orang-orang di luar bidang senipun juga bisa ikut menikmati dan menghargai karya-karya para seniman, terutama para seniman lokal yang karyanya juga nggak kalah dari seniman internasional yang sudah terkenal itu. Karena menurut aku, tahun-tahun belakangan ini acara seni semakin mudah dijangkau oleh masyarakat dan sudah menjadi pop culture tersendiri. Jadi sudah saatnya generasi muda ini, yang memiliki jiwa-jiwa seni nggak perlu malu atau gatel sama omongan orang yang berpemikiran semacam 'mau jadi seniman? seriusan?' seperti itu. Buktinya sekarang, para seniman maupun acara seni semacam ini malah mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat.
Hehe...

Nih sedikit referensi, kali aja jadi pada tertarik buat ikutan atau datang ke acara JMB 2 dua tahun lagi.